Senin, 28 Juli 2014

Jakarta oh Jakarta

Dokumentasi: Pamflet

RESUME:

Berawal dari keseharian pribadi yang terekam dalam karya seni rupa, menjadikan pokok pembahasan tema yang dikemas dalam Pameran Besar Seni Rupa Indonesia Manifesto #4 "Mencandra Tanda-Tanda Masa" yang diselenggarakan oleh Pihak Galeri nasional, Jakarta, Indonesia. Pameran seni rupa ini diramaikan kurang lebih 40 perupa muda yang berumur maksimal 35 Tahun dari berbagai kota diantaranya: Jakarta, Bandung, Yogya, dan Solo. Pameran seni rupa ini merupakan acara dua tahunan yang terus diagendakan oleh pihak Galeri nasional, guna menjaring dan memperkenalkan karya-karya seni rupa penerus bangsa Indonesia. 


Dokumentasi: Karya Sonny Hendrawan

Dokumentasi: Karya Wahyu Eko Prasetyo

Dokumentasi: Rombongan dari Solo yang datang menyerbu Ibu kota


Pancaroba-Pancaroba di Jantung Indonesia

Dokumentasi: Baliho Pameran Komunitas Garis Cakrawala 22 Maret 2014
di Galeri Cipta II, Jakarta.


PANCAROBA PANCAROBA :
Ikhtiar Menunggu Musim
Hendra Himawan*

P
ancaroba, musim peralihan, atau era transisi mempunyai pengertian yang sosiologis. Namun, peralihan dari apa ke apa dan dalam konteks apa? Denyut seni rupa sebuah kota sangat ditentukan oleh individu dan komunitas para pekerja seninya. Dan hari ini, seni rupa Solo ‘hidup’ setelah sekian masa dianggap senyap. Terlewati dari perbincangan seni, sering kalah rampak dengan seni pertunjukannya. Apakah individu perupanya ikut senyap, tidak!. Mereka terus bergerak mencari jalan untuk menggerakkan ruang hidupnya.

Pancaroba Kota

Misi Surakarta sebagai Kota Budaya dengan arus modernisasinya yang deras, menghadirkan tegangan tersendiri ketika keduanya dihadap-hadapkan. Antara spirit tradisional dan realita modernitas yang menuntut untuk dinegosiasikan. Kebudayaan menjadi arena pertemuan keduanya, memaksa masyarakat bersiasat agar keduanya menyatu, atau bahkan, me’negasi’ satu lainnya. Dampak tegangan ini pun merasuk dalam wilayah-wilayah kesenian, khususnya seni rupa. Bukan dalam persoalan esthetisme semata, ambiguitas konsep budaya kota ini merasuki pola pikir para perupanya, yang berujung pada banyaknya individu  yang menarik diri dari persoalan ini. Ketakutan-ketakutan yang dibayangkan pun akhirnya muncul. Egoisme-egoisme individu dan komunal yang berujung pada apatisme dan keputus-asaan akan seni rupa kota Solo yang ‘stuck’, terlewati dari wacana-wacana besar seni rupa Indonesia.  Sudah sekian lama seni rupa Surakarta mengalami masa Pancaroba!

Persoalan ini yang menjadi pangkal kegelisahan Garis Cakrawala. Lima tahun tumbuh dan bergerak, mereka menyisir simpul-simpul persoalan. Infrastruktur seni rupa yang kurang dan cenderung lemah, pola pikir para perupa yang individual, senioritas yang kental, kampus seni rupa yang jauh dari dialektika perkembangan seni, institusi pemerintah yang abai, adalah sekian dari banyak hal membuat seni rupa Surakarta terkesan dingin. Garis Cakrawala hadir menjadi ‘rumah kecil’ yang diikhtiarkan untuk mampu menghangatkan para perupa yang berada di dalamnya. Menumbuhkan semangat kolektivitas yang penuh keterbukaan, membangun dialektika pemikiran, mengasah pemahaman estetik dan artistik, yang berujung pada tawaran-tawaran gagasan akan perubahan dinamika seni rupa Surakarta. Sebuah mimpi besar yang terus menerus diupayakan hingga hari ini.

‘PANCAROBA-PANCAROBA’ adalah jendela bagi rumah Garis Cakrawala untuk menengok apa yang terjadi di luaran, melihat beragam persoalan untuk kemudian dikaji, direnungkan. Celah untuk menumbuhkan sikap dan tawaran-tawaran bagi diri dan lingkungannya. 

Pancaroba Komunitas

Komunitas seni rupa di Surakarta jumlahnya sangat banyak, meski terbilang sporadis. Komunitas atau kelompok yang memang bervisi dan bermimpi panjang, ataupun sekedar kumpul-kumpul membuat project pameran dan bubar tanpa beban setelahnya. Kebanyakan adalah kelompok-kelompok mahasiswa dari kampus-kampus seni rupa. Euforia berkelompok memang sangat dominan di kota yang terkenal dengan HIK (angkringan)-nya ini. Beberapa komunitas seni rupa yang masih aktif bergerak, biasanya didukung oleh kawan-kawan perupa muda yang loyal, atau karena ikatan pertemanan yang kuat, dan atau rasa ‘perkewuh’ pada senior.

Kecenderungan yang ada, kegiatan pameran atau project seni menjadi satu-satunya tujuan tetap bertahannya sebuah komunitas. Eksistensi diukur dari berapa kali menyelenggarakan event, banyaknya apresiasi yang didapat, ramainya jumlah pengunjung, syukur-syukur ada berkah materi. Orientasi pada produksi pengetahuan, apresiasi kritis, bahkan visi konseptual yang berkesinambungan masih kurang, dan cenderung abai. Banyak penyelenggaraan event terjebak pada perayaan-perayaan, tawaran gagasan (bahkan kritik) masih seputar tampilan visual, teknik presentasi, dan artistik. Visi-visi ideologis masih jarang dihadirkan.

Banyaknya komunitas seni rupa yang ada di Surakarta memang tumbuh secara natural karena kebutuhan akan ikatan kolektif, berkumpul dan berteman. Hal ini wajar dan meski dimaklumi karena kebutuhan akan ruang-ruang sharing dan ruang proses kreatif masih sangat minim.

Timbul tenggelamnya komunitas dan gesekan gesekan akan ruang komunitas yang terjadi akibat lemahnya visi tidak membuat iklim berkesenian berubah signifikan. Kecenderungan untuk asik bermain di wilayah sendiri menyebabkan dinamika seni rupa di Surakarta malah terbelah-belah. Hal yang sama juga dialami dan dirasakan selama Garis Cakrawala berdiri. Bongkar pasang personel, dialektika proses yang mandeg, visi yang masih kabur, menumbuhkan refleksi untuk perubahan. Mengalami jeda masa dan peralihan misi, ‘PANCAROBA PANCAROBA’ ini menjadi terapi tersendiri bagi Garis Cakrawala. Dengan merangkul rekan rekan komunitas lainnya, SAYAP (Surakarta Young Artist Project). Dengan turut sertanya kawan-kawan muda, dengan kecenderungan karya yang segar dan bergaya popular. Mereka membuka kemungkinan atas praktek praktek penciptaan komunal yang lebih beragam. Pertemuan ini menurut saya menjadi penting untuk memhami siklus perkembangan dan dinamika komunitas seni lain yang sama sama bergerak di kota Surakarta.

Perhelatan kali ini juga menjadi satu titik balik bagi Garis Cakrawala menyusun ulang ideologi mereka hari ini. Tidak mau meninggalkan jejak sejarah perjalanan seni rupa di Surakarta, mereka mencona menggali spirit pergerakan komunitas-komunitas yang lebih dulu tumbuh, melihat pergerakan yang telah dilakukan untuk merumuskan gerakan taktis mereka ke depannya. Ikatan tradisi yang kental di kota ini, menjadi jalan mereka untuk mengangkat nilai nilai dan spirit tradisi sebagai bagian dari riset, kajian dan platform komunikasi ketika berhadapan dengan publik seninya sendiri. Dan justru dengan iitu pula, Garis Cakrawala mempunyai karakter dan warnanya tersendiri.

Menyayangi masa lalu, dan terus belajar, menemukan cara cara baru untuk memahami hari ini, dan selalu bergerak untuk masa depan. Menurut saya kalimat ini yang yang tepat untuk menggambarkan spirit Garis Cakrawala saat ini.

Pancaroba Proses Individu

Pancaroba dalam sebuah proses kreatif sangat penting bagi seorang perupa. Sebab proses kreatif senantiasa bergerak, dinamis seiring dengan laju pengalaman dan pemahaman pada jalur kesenian yang dipilih. Pancaroba adalah titik reflektif untuk menuju percepatan-percepatan.  Geliat seni rupa kota yang lambat merayap, gerak komunitas yang mulai tumbuh rapat, tak ayal menarik sebagian individu perupa muda Surakarta membangun koloninya. Dengan berkelompok-berkomunitas, proses kreatif yang terpencil dan menyendiri di studio, buntu di jalur pikiran boleh dibuka. Pengalaman estetik dapat dikaji-disharingkan bersama, sementara wilayah artistik karya tentu mendapatkan celah kritik yang membangun. Pancaroba dalam proses kreatif adalah masa peralihan dari stucknya pemikiran, kebuntuan pemahaman, matinya kritik, dan ego idealisme yang terkadang konyol. Peralihan dari proses personal ke komunal, dari ego ke toleransi, dari eksistensi buta kepada visi gerakan kebudayaan. Peralihan seperti iniilah yang kemudian akan menuntun kesadaran bagi para perupa untuk mengambil sikap-sikap yang lebih bertanggungjawab atas jalan pilihan keseniannya.

Dalam proses karya individu, hal inilah yang saya tangkap dari PANCAROBA PANCAROBA yang digagas Garis Cakrawala. Beragam 'peralihan' yang terjadi di lingkungan seni rupa dan kebudayaan dalam ranah : diri, komunitas, kota, hingga dimensi sosial politik  negara, menjadi pemicu munculnya reaksi reaksi reflektif dalam diri perupa-perupanya.

Setiap pergantian rejim penguasa, agenda politik yang diusung selalu berdampak pada perubahan kebudayaan. Sebagaimana yang dilukiskan oleh Irul Hidayat dalam karya ‘Pancaroba Kepemimpinan’ (2014). Dalam karyanya ia hadirkan seluruh wajah penguasa yang pernah memimpin negeri ini dengan beragam warna yang mampu mewakili citra diri mereka (warna partai misalnya). Dengan karakter deformasi garis yang tegas membentuk outline raut wajah, Irul menonjolkan karakter dan kekuatan pemikiran penguasa yang mampu dirasakan bekas-bekasnya. Pancaroba kebudayaan yang terjadi dari satu rejim ke rejim selanjutnya, dinegasinya dengan menghadirkan figur muda perempuan yang tampak centil dan kenes. Dari gambarnya tersirat bahwa sekencang apapun pergolakan politik yang diusung, kebudayaan selalu dianak-tirikan. Abai! Padahal kebudayaan adalah pangkal dan ujung dari setiap gerak pikir dan hidup manusia.  Modernisasi, pop kultur, ulang-alik wacana globalisasi (inferioritas global, dan puritanisme lokal), tak berfungsinya tapis (filter) kebudayaan, mengakibatkan hilangnya kepercayaan akan apa itu definisi ‘identitas’, ‘nasionalisme’, dan ‘bangsa?’ 

Kisah yang sama juga diceritakan Sony Hendrawan dalam karyanya yang berjudul ‘Opera Klasik’ (2014). Ia membuat imajinasi sendiri akan ketimpangan sosial yang banyak dijumpai. Dunia yang sudah dibolak-balik, “sing ndhuwur mabur, sing ngisor ndlosor” (yang di atas semakin terbang tinggi, yang dibawah semakin tiarap). Peralihan kekuasaan selalu membawa dampak dimana seringkali ada nilai dan subjek subjek yang mesti dikorbankan. Bagi yang menang ia akan mendapatkan hak dan kemerdekaan-berkuasa, sementara yang kalah harus siap bernegosiasi dengan keterbatasan-keterbatasan. Di sekat sistem penguasa, di rampas hak suaranya. Belum lagi soalan-soalan kehidupan yang menjerat, sementara pemegang kendali negeri tenang mengayuh sauh nafsu sendiri. Dan menurut Sony, hanya imajinasi-imajinasi akan negeri yang tenang dan damai,  yang akhirnya mampu dibeli dan dihayati.

Dan apa jadinya jikalau imajinasipun dilarang dan dibatasi? Menurut saya, Wahyu Eko mampu menggambarkannya dengan apik, melalui karyanya ‘Bisik Bisik Sebaya’ (2014). Manusia hari ini tidak ubahnya robot, dikendalikan oleh ‘visible hand’, dikuasai dan didominasi. Kita hari ini menjadi bagian dari sistem-sistem sosial yang kita tidak mengetahui dari mana ia dikonstruksi dan disepakati. Hari ini pola pikir kita dikondisikan oleh ruang, waktu, dan pemahaman kebanyakam. Hanya ‘commonsense’ yang pada akhirnya menjadi tolak ukur kebenaran. Maka Bisik-bisik sebaya sangat menentukan siapa diri dan identitas kita. Epigonik, hilangnya akal-budi, runtuhnya cita-cita ‘memanusiakan manusia’, itulah kritik-satire yang dilontarkannya.

Melalui karya yang berjudul ‘Red Label (Possesive)’ (2014)Arisno Effendi melakukan refleksi atas pengalaman-pengalaman awam manusia. Sikap-sikap emosional yang muncul akibat ego dan hilangnya kesadaran sosial muncul dalam simbolisasi kucing merah dengan ornamentasi ruang penuh warna. Kucing yang terkenal manja dan kenes menjadi personifikasi atas tingkah polah manusia yang cenderung berpuas hati dan sering cemburu dengan capaian-capaian baru yang dbuat oleh orang lain. Karya ini kental dengan sindiran meski hadir dengan gaya naif. Kita sebagai insan seni sering diuji dengan upaya-upaya mencari eksistensi diri namun mengabaikan kondisi-kondisi sosial di sekitar kita. Apakah kita merasa cukup dengan berdiri kenes dipanggung kesenian, sementara kebudayaan kita pelan-pelan menuju keruntuhan?

Celakanya memang matahari terbit sepanjang tahun diatas kepala kita. Tanah tropis yang kaya akan alam dan budaya, menjadi incaran dan jajahan hingga hari ini. Salahnya matahari yang menyebabkan tanah ini di serbu seluruh bangsa dari penjuru dunia untuk membuat kontestasi peradaban masing-masing, sementara kita hanya bisa diam, sesekali mencuri takjub dan mengangguk dengan kelapangan dada, menerima. Tapi matahari memang tidak ingkar janji, dia memberi peringatan ketika manusia melakukan kesalahan pada tanah yang disinarinya. Baik itu kesalahan ekologis, merusak tatanan alam, sosiologi hancurnya tatanan pola pikir dan kolektivitas masyarakat, rusaknya tatanan kultural dengan menipisnya perhatian kita pada peradaban kebudayaan sendiri. Hal ini yang saya tangkap dari karya Aan Sasmitra, ‘Phase The Sun’ (2014). 

Mau kemana kita berpaling? Barat atau Timur? Siapa Barat, Siapa Timur? Dimana Barat, Dimana Timur? Celakanya tanah yang kita pijak berada di ‘tengah tengah.’ Kitalah medan pertemuan dan pertempuran budaya itu. sejak kolonial hingga kontemporer, kita selalu dipaksa underestimate dengan diri kita sendiri. Jangankan kebanggan, kepercayaan akan sejarah pun dengan mudah kita tepis sendiri. Kita dirayu untuk menemu identitas, simbol, pola pikir dan peradaban baru yang mixed, cenderung campur aduk semaunya, sementara akar tradisi semakin tak tersentuh. Ketika dimunculkan yang ada hanyalah eksotika etnis, lokalitas puritan, dan kebanggaan-kebanggan pada simbol tradisi yang abai esensi. Lantas dimana dan mau apa kita? Inilah kegelisahan M. Syaifudin yang dituangkan dalam karyanya ‘Sama-sama Tak Berujung’ (2014)

Runyamnya negara ini menjadi keprihatinan Hendra Purnama. Melalui karyanya, ia lukiskan dinding pelat seng yang penuh tambal sulam dan berkarat. Ia jadikan seng sebagai bentuk keberpihakan atas kaum yang kalah, dipinggirkan dan dimiskinkan diri dan pemikirannya oleh penguasa. Merajut tampalan-tampalan menjadi dinding utuh agar kembali kuat, merajut kembali nusantara yang telah koyak, penuh karat akibat ulah kita, empu-nya yang sering abai dan tak peduli. Berupaya memupus keputusasaan dan menanam benih kepercayaan, bahwa dalam kondisi apapun, masyarakat masih mampu untuk bertahan.

Karya Rejo Arianto yang berjudul ‘Pancaroba Symphoni Cinta’ (2014), menggambarkan dua figur manusia yang berlapis-lapis soalan hidupnya. Menggunakan pendekatan realistik dalam gaya lukisan naif, ia menggambarkan sosok laki-laki dan perempuan yang menggendong anak-anaknya. Melihat lukisan ini kita diingatkan atas kisah cerita keluarga Man Brayut yang mempunyai banyak anak, dan munculnya filosofi ‘banyak anak banyak rejeki’ dikalangan masyarakat tradisi Jawa. Upaya drama satir coba dihadirkan Arianto dengan meletakkan payung digenggaman tangan sang lelaki, seolah bersetia untuk melindungi anak dan istrinya dari beragam persoalan yang datang. Kesederhanaan, kesetiaan dan kebersahajaan dalam memandang dinamika peristiwa kehidupan tertangkap jelas dalam karya ini.

Hilangnya nilai spiritualitas dalam kebudayaan pop digambarkan Indra Kamesywara dalam karyanya. Kesendirian, kesunyian, tergambar dari sosok figur menyerupai manusia berkepala burung. Simbol-simbol seperti babi terpotong, ekor ikan yang terpotong-potong menjadi presentasi akan nilai-nilai kemanusiaan yang sudah tersekat. Terbelah oleh keadaan dan wacana-wacana bohong yang abai esensi. Menggunakan pendekatann gaya lukisan pop surealisme, Indra mengajak kita untuk merefleksikan setiap teks visual maupun judul yang sangat agitatif, ‘U.NG.O.D.L.E.S.S.’ (2014).

Menggunakan pendekatan gaya-gaya personal yang cenderung pop, kelompok SAYAP menguak memory perjalanan masing-masing perupanya melalui karya-karya koper yang bergambar. Masing masing membuat ‘museum ingatan’ atas peristiwa, kenangan, hingga objek-objek visual yang sangat personal, berkaitan dengan diri mereka sendiri.  ‘Koper’ menjadi simbol pengingat akan peralihan pengalaman, pemikiran, dan kedewasaan mereka bersikap dalam dunia kesenian yang masih pendek mereka tempuh.

Sebutlah seperti Chiz yang menjadikan koper sebagai monumen koleksi akan hobbies dan kesukaannya pada corak kartun, dan tema-tema Piratez. Visualitas pop dimaknainya sebagai manifestasi kegembiraan, kesukaan yang tanpa pretensi beban esensi, namun menyiratkan proses dinamika pola pikirnya. Sama halnya koper karya Rofiq Syafrudin yang mengangkat spirit personal dalam karyanya. Simbol universal  ‘Rose’, menjadi penanda kisah dan pengalaman hidupnya. Filosofi kesetiaan dan penjagaan menjadi pengingat yang dikenangnya dalam kopernya.

David Krebonson mengolah koper sebagai ingatan akan memori gelap : pembunuhan keji dan mutilasi yang sering dilihatnya di kotak televisi. Mengolah realita keji dengan bahasa popular, mengasah kemanusiaan kita secara lembut, tanpa mengurai rasa satire yang dalam. Seperti halnya karya  Hery Acin Dwi Mulyono yang mengangkat tajuk perang dan kekerasan sebagai senjata untuk berkuasa di dunia. Imajinasinya andaikan dunia tanpa tentara, sebuah dunia dimana manusia satu dan lainnya saling melindungi.

Budaya simbol, pemujaan atas logo, penyembahan atas label dan ikon ikon popular menjadi kritik dalam karya koper Fuzan Abu Salam dan Aeseka Ms. Orang sekarang yang cenderung melihat pada presentasi bukan fungsi apalagi esensi. Hilangnya pemahaman akan nilai-nilai spiritual keseharian dalam setiap produk kebudayaan, memposisikan kita sebagai korban secara terus menerus. Produk konsumerisme telah menjadi pusat dari kebudayaan, sesuatu yang harusnya diisi oleh manusia kini diganti benda-benda mati, dan simbol simbol tak berarti. Dan ketika hal in iterjadi, Tuhan sudah Dianggap Mati sebagaimana yang diungkapkan oleh Indra Kamesywara dalam karya kopernya. Mereka sudah tidak tahu lagi siapa yang harus di dahulukan dalam kehidupan. Trend-style sama sucinya dengan agama, konsumsi adalah jalan peribadatan dan eksistensi diri  adalah surga-neraka.

Hadirnya perupa-perupa muda SAYAP ini menurut saya menjadi satu potensi yang menarik bahwa ada sharing dan presentasi karya yang dialogis, yang memberikan kesempatan bagi siapapun yang melihat karya mereka mengapresiasi cara pandang dan dialektika mereka sebagai anak muda yang dekat dengan budaya populernya.

Menunggu musim, Menjadi Pancaroba

Sebuah peralihan memberikan jeda waktu yang berujung pada sikap penantian, menunggu. Sebuah penantian yang memunculkan pengharapan, bayangan akan perbaikan dari kondisi hari ini. Sebuah ruang tunggu yang hidup dan penuh pergerakan. Dengan dinamika ruang lingkup yang terus bergerak dan berdialektika. Dimana dalam masa-masa ini, adalah tepat untuk kembali merumuskan strategi-strategi secara takstis, dan terus menerus mengevaluasi diri. Terus membuka pikiran atas segenap kemungkinan yang bermunculan, dan terus menumbuhkan semangat dialog, sharing untuk membuka wawasan dan sikap-skap kritis pada diri sendiri ataupun dunia seni rupa yang lebh luas. Maka dengan itu, menurut saya lebih baik Garis Cakrawala tetap dalam masa pancaroba terus menerus. Menjadi koma demi koma, sejenak menjadi tanda seru, dan jangan pernah menjadi titik!!:-)

Dokumentasi: Kami dan saudara kami dari IKJ Jakarta


Senin, 07 Juli 2014

Kumpulan Puisi 2006 - 2009

Kumpulan Puisi 2006
Buah Karya: Sonny Hendrawan


Waktu Itu Bernyawa

Mungkin aku merasa dibodohi
Oleh tingkah laku yang tak tentu
Marah merajai hawa tubuhku
Seakan-akan aku dianggap bahan pergunjingan dari mulut-mulut omprengan

                                Ingin rasanya kubungkam perkataan mereka,
                                Dengan sisa-sisa kotoranku
                                Menyesal, itulah yang terasa
                                Pada diriku saat ini

Aku tak ingin mengikuti iming-iming goblok
Yang hanya membuang nyawa
Waktu berarti…..
Walau terbuang lima detik





Evolusi Hidup

Berubah menjadi yang tak nyata,
Itu memang takdir
Yang tidak dapat dirubah dari agenda
Semuapun akan ikut tercatat dalam jadwalnya

                                Jangan sia-siakan…..
                                Hidup itu bukan mainan yang mudah
                                Kita tinggal menghitung dengan jari
                                1,2,3,4,5,…dst, hingga di ujung rumah masa depan


Hai, Hidup Where Are You?

Kucari terus apa arti hidup
Istilah bilang “hidup butuh teman”
Namun untuk apa parasit yang malah menjulur merusak jiwa
Memang begitulah realita life style satu ditindas, yang menggilas berkuasa

                                Aku bukan berarti mengalah
                                Disini aku menemukan hidup anyar
                                Bebas…bebas…bebas…sebutkan kata itu sebanyak tiga kali
                                Mudah kutemukan sekarang arti kata “hidup” senyatanya

Yang Tak Kunjung Tiba

Yogya, pukul 4 lebih 27 detik tepatnya di Stasiun
Aku menunggu kehadirannya,
sudah berjam-jam aku duduk
Bahkan tertidur disebuah kursi panjang terbuat dari kayu dan besi

                                Bunyi peluit panjang dari pria berbaju biru
                                Aku tersentak kaget…..
                                Kukira “dia” yang dating
                                Ternyata itu dari sebagian temannya


Penasaran Hadir

Bergeliat mengikuti arah angin,
Ada tak bisa di senggam
Plin-plan mungkin motifnya
Walau demikian dia jujur

                                Kadang dia sulit dimengerti
                                Rasa mengorek kedalamannya ingin kucoba
                                Tapi ingat jangan coba-coba
                                Untuk memasukan roh Dajjal kedalamnya

Ruang Rasa Yang Tersembunyi

Dimensi sesempit ini, tetap aku belum dapat temukan celah untuk berlindung
Rasa belum menemukan aromanya
Sang ratu yang masih lama dalam sarangnya
Kemana engkau akan melaju sekarang?

                                Dimana dapat kutemukan mahkotamu yang maha suci?
                                Mungkin suatu saat
                                Akan kutemukan
                                Hadirnya engkau

(-) (+) “puas”

Tak stabil ketika emosi memuncak
Terpacu terus untuk mengais ambigu
Rasa kurang puas akibatkan semua ini
Ingin semaksimal mungkin kuraih dalam detakan waktu

                                Sudah kumakan banyak sisa, namun rasanya kurang
                                Melebihi kepuasan yang diinginkan
                                Satu cara yang membuat diri bangkit dari keminiman
                                Selalu puaskan hati dengan menurut kata khayalmu


Mouthah

Bukan hanya “tahi” saja yang bau,…..
Ternyata mulutpun bisa lebih dari kotoran
Ta…..
Ti……
Tu…..
Tahi memang tahi, bagaimana aromanya ya bau
Kotoran kalah basi dengan mulut
Satu mulut seribu tahi
Makin banyak, makin menyebar



WOW

Wanita oh wanita
Apa yang menjadi teka-teki di balik kemolekan seorang wanita?
Mengapa selalu terangan-angan untuk menuju wanita?
Apakah karena keindahan susunya, ataukah lubang suci yang dicari?

                                Aku hanya tertarik oleh kehidupan seorang wanita,terutama geliat wanita malam
                                Sosok itu yang sedang kucari, dikaryaku akan penuh dengan hujatan wanita
Aku juga terinspirasi oleh adanya sifat buruk manusia
Aku akan mencoba untuk menyelami semua itu
Lu La Lu Lis

Kulintasi jalan liku tak menentu
Tak tahu arah yang kucapai
Rasanya tak dapat kugapai yang ingin disampaikan
Rasa tersebut akan sampai pada waktu yang berdetak sekeras jantungku

                                Lalu…lala…lali…..
                                Lalulali…..
                                Aku sampai lupa
                                Apa yang akan kutulis


Ternyata! Mimpi

Kulukis engkau dengan cat darah
Bercampur keringat rasa
Bau asli tubuhmu terasa
Hingga mengilusi dibenak batin

                                Entah apa yang mengacu pada otaku
                                Hingga tega ku keluarkan benih perjaka ke selaput suci
                                Tapi, setelah kupikir sejenak kulebarkan kelopak cahaya mataku
                                Ternyata semuanya mimpi tak tersampaikan

Teriakan Gersang

Ramai serasa sendiri
Ampang tak ada kicauan
Tak ada gerak-gerik yang menyemangati hidup
Si “aku” sudah tak tahan rasanya

                                Ingin kutinggalkan negri pelompong ini
                                Di sini “aku” bisa mongering
                                Mungkin “aku” butuh meditasi
                                Tak ada yang bisa diajak mengerti akan keadaan “aku”

Mungkin suatu saat
Kutinggalkan sejenak
Bahkan selamanya…..
Kulupakan…..


Malam Spontanitas

Tangan kecil menggelitik kea rah puncakku
Tetapi,…selanjutnya…..
Kusela, tangan sekecil pentol
Berubah menjadi cakaran garang

Sejatinya Aku

Gadis molek, dengan dialek jawa bertutur padaku
Katanya, dia eks lonte…..
Tersentak!!! Hati pilu mendengar saat dia sebut “aku ini bajingan”
Demi segelincir lembaran yang menggiurkan
Dia barter dengan surganya…..
Oh…Betapa memilukan mendengarnya
Seakan-akan sudah penuh dengan imingan “Rp”
Mau jadi apa nantinya?
Ya Lonte…..

Lahir Perjanjian Desember

Hadir tiga sosok terlihat hangat
Si molek menatap dua lelaki siap tempur,
Ketika satu pria memiliki egois tinggi
Kotak hidup terasa ramai
                                Entah apa yang diperdebatkan
                                Burung satu berteriak tiga
                                Burung dua berbicara double
Titik temu tak terjadi
Muncul dari benak hitam sebuah perjanjian
15 jari jadi satu, dan diakhiri kata…”setuju”
Inikah namanya tantangan?
Kumpulan Puisi 2007
Buah Karya: Sonny Hendrawan


Coba Bicara Dengan Batin

Titik…titik…titik…..
Kejenuhan…jenuh…..
Rasaku hampir tak semanis dahulu
Hambar, tak berasa, rasanya ingin kulalui dengan sia-sia

                                Hanya itu dan itu saja yang dijamu setiap hari
                                Apakah bisa ganti menuku setiap hari?
                                Jalani dulu kehidupan ini
                                Pilih terbaik yang kamu cita-citakan

Ah…gombal, cita-cita apa yang sekarang kupikirkan?
Yang ada saat ini adalah pikiran mau meledak
Dan jenuh…..
Yang melebur





3 M (Melihat, Mendengar, Merasakan)

Ku buka lembaran di awal 2007
Dengan motivasi bangkit membawa nama gelegar
Ingin kusampaikan aspirasi ini
Pada manusia bertelinga, bermata dan berhati

Nol

Kembali ke-Nol
Saat bulan 2 menyapa diriku
Hampir kuhabiskan nyawa dari setengahnya
Ingin kurubah jasad ini dengan sinar kesucian
Hilangkan sifat najis yang menjamur diraga ini

Ro Na

Aku terbawa oleh rasa iba yang berlebihan
Sehingga aku berani berbuat yang lebih dari kemampuanku
Tak kurasa inilah arti sayang akan dirimu
Dahulu kau yang begitu sebal bagiku, sekilas tampak memelas di benakku
Mungkin aku jahat, karena telah menyakiti si pria itu
Tapi aku berbuat ini demi kebaikan “N”
Selama ini hanya berperan
Sebagai pemuas sesaat
Momok Dari Griya

Pergi dari satu, kedua lompat ketiga
Lalu tiba di sebuah tempat dimana tenaga metafisika menyelimuti dinding
Sugesti orang menjadi bimbang dibuatnya
Hanya sekelompok kecil yang berani menembus selaput lelembut alam dogma

Melihat Yang Tak Terlihat Kembali

Melihat bulan setelah turun air langit
Bulat penuh berisi
Dikala malam lurus pas 12
Kesepian hening diubah dengan obrolan yang terbata-bata
                                Aku duduk di samping becak rantaian layangnya dipasung
                                Kulihat sahabat bergelut tangan dengan roti berisi
                                Maklumlah, dia menawarkan aroma roti legit di pojok trotoar
Dengan gerobak kuning manja dan neon panjang
Yah…..
Kunikmati pagi ini
Untuk mempesonakan hati





Naskah Yang Tidak Dimengerti

Drama yang belum habis terkuak semua
Tentang diri dan menyelami arti ini
Kisah dalam kehidupan
Yang semuanya belum menunjukkan prosesinya

                                Dimana peran belum sepenuhnya
                                Mengerti apa yang akan dimainkan
                                Sosok yang belum menunjukkan
                                Eksistensinya dalam persandiwaraan

Tapak yang belum jelas dengan identitasnya
Suara yang tak pernah terdengar gaungnya
Subjek yang belum mengerti penempatannya
Wayang dalam cerita yang belum jelas apa cerita dan siapa dalangnya

                                Fungsi yang tak menentu untuk digunakan
                                Semua yang masih belum terbaca sampai menjadi teka-teki
                                Apa ini yang disebut realitas?

Coba saya bertanya, pada orang-orang yang katanya realita
Hidup sudah dijalaninya bahkan yang tua sekalipun
Ngoh…itu pasti yang ada dalam mimik orang-orang itu
Tanyakan pada orang yang sudah melebur bersama alam
Kumpulan Puisi 2008
Buah Karya: Sonny Hendrawan

Yang Telah Berada

Dulu aku sering bercanda gurau
Merasakan keceriaan bersama yang kita alami
Kamu mungkin bukan siapa-siapa
Tetapi mengapa hati ini terasa perih, pedih atas ketiadaanmu
Sebelum kau pamit
Kau tersenyum padaku
Seakan kau hendak pergi jauh
Wajahmu bersinar secantik bulan
Hanya ini yang bisa aku berikan
Dan doa yang akan menghantarkanmu kembali
Dengan tenang, terima kasih telah kau temani bersama
Selamat tinggal, tak akan kulupakan engkau sampai selamanya
Aku yakin kau masih belum jauh
Diantara kita, aku masih belum percaya
Kau telah meninggalkan begitu cepat
Aku kehilangan suaramu
Kenanganmu selalu hadir menyertai langkahku
Kau bagian dari hidup ini
Mengapa begitu cepat untuk berlalu

Syair-syair Alam

Kabut menemaniku saat terlelap dihamparan batu
Begitu dekat aku dengan rimbunan hijau dan gemericik air yang deras
Aku memandang luas ke bentang khatulistiwa
Kokoh kecil dapat terpandang oleh mataku

                Hanyut terasa aku dibuatnya
                Menggoda untuk dirasakan alaminya
                Entah rasa senang atau lelah
                Semuanya tak pernah kuhiraukan, untuk mencapai pundakmu

Sahabat menemaniku dari lika-liku jalan yang dibuatnya
Aku merasa ingin menyatu dengan godaannya
Dalam hati ingin kubawa engkau ketempatku yang bising
Sayang, hanya beberapa saja yang mau memalingkan matanya untukmu

Jelas dalam mata,
Kau sungguh indah nan rupawan
Kau tak kan kuhilangkan
Dalam dimensiku




Bahasa Basi Untuk Basa-Basi

Terucap kata untuk bicara yang melantur
Arah pembicaraan sudah jauh dari pokoknya
Keringat mengucur, tubuh gemetar
Bahasa tubuh mulai menguak bahasa
Mulut tidak ada yang bisa mengatur
Otak pun sudah campur aduk
Pengendalian diri serasa robot bodoh
Komat-kamit…komat…kamit…amit-amit
Sepatah kata mulai dilontarkan
Baunya minta ampun untuk diterima
Busuk…penuh kebusukan dalam suara
Sekilas sampah terlihat saat berucap
Dimana logika akan terpakai
Ketika cacian terus menghampiri
Tanpa isi sekedar isi
Basi jadi basi
Bingung rasa jadi bubrah
Ketika…ketika…..
Terlalu banyak basa-basi
Terbuang dalam sebuah kotoran



Kumpulan Puisi 2009
Buah Karya: Sonny Hendrawan

Suara Dari Hati Yang Merdeka

Ahh…menyesal…tak ada hentinya terkoyak
Galau, rasa kejujuran terbungkam
Belenggu bagi tonggak jiwa
Melawan dalam amarah dan cinta
Merobek keluar tak berdaya
Degub keras melanda jantung
Untuk dengarkan aspirasi bawah
Melihat sisi di balik layar
Perih tersayat pilu
Rongga semakin terbuka
Berani dalam mengucap kata
Positif mendominasi arah
Menjadikan sosok jihadility







Biodata Belum Lengkap

Memang semua tak bisa dimengerti
Apalagi dipercaya, ketika sesuatu hal yang terlihat buta dan dangkal
Kesaksian terdiam membaca langkah
Mencari baying-bayang yang bisa diajak bicara

                Pertemuan awal membawa sekedar kenal
                Memahami sosok butuh perjuangan mendalami raga
                Di baliknya ada jiwa terkurung yang sulit di ungkap

Serba sulit ketika tubuh terkoyak
Terpontang-panting oleh keadaan
Penghibur lara sebagai batas senyuman pahit cerita, lalu jadi pemikiran baru
Muncul mengerti akan sisinya

                Menjadi lelah tak terkuatkan mencurahkan imajinasi
                Diam, termenung, diresapi rasa kesedihan
                Mengapa harus menjadi diri

Ini bukanlah penyesalan
Ini jalan awal menuju kelayakan hidup
Belajar menjadi Satu
Melebur bersama kekuasaan dan Illahi
               
Tak Ada Alpha

Datang menderu bagai ombak memecah gelanggang
Menyambut penemuan baru untuk disuarakan
Gelegar pada ciptaan-NYA
Merangkul luas apa yang dipandang

                                Kemampuan dibuat tak sekuat ledakkan gunung
                                Melelehkan di dekat tepi ketiaknya
                                Namun kekuatan ini menapakan pada sedikit kenangan dunia
                                Meski semua ditumpahkan sampai menggerus tubuh

Langkah senyap pertama yang diperoleh
Semakin meluap
Perlahan jadi kikisan
Yang mengukir didunia waktu

                                Tak ada yang perlu disesali
                                Ketika itu belum menjalani
                                Terus…Terus…Gerus…..

                                Apa yang ada di balik pori-pori kecil